Ads 468x60px



Labels

Kamis, 31 Januari 2013

Rahasia Penciptaan Langit dan Bumi

Kata ibnu Abbas r.a. bahwa pada waktu Allah SWT hendak menciptakan tujuh lapis langit dan bumi, yang pertama kali diciptakan adalah permata putih; 70.000 tahun lamanya menghampar. Lalu Allah SWT melihat hasil karyanya itu, maka bergoncanglah permata dengan hebatnya karena menyaksikan keagungan Allah SWT. Akhirnya, permata itu pun hancur. 70.000 tahun lamanya berputar-putar. Lalu menjadi air lautan. Lautan itu meluap-luap, dan berlangsung 70.000 tahun lamanya juga. Allah SWT pun menciptakan api untuk menghanguskan air lautan tersebut. Air pun berasap dan berbuih. Buih-buih berkumpul menjadi lumpur. Dari lumpur inilah, Allah SWT menciptakan bumi. Dan dari asapnya itulah Allah menciptakan tujuh lapis langit.

“Kemudian Dia menuju langit, sementara langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa ", keduanya menjawab: kami datang dengan suka hati". (Q.S.: 41:11).

Allah SWT memerintahkan dua malaikatnya yang bernama Towas dan Jibril untuk menghimpun buih yang telah menjadi lumpur itu. Jibril pun menghamparkannya. Maka jadilah bumi berlapis tujuh di atas air tautan tadi. Allah SWT menetapkan pusat bumi di Negeri Mekah. Lalu Jibril meratakan lumpur yang telah menjadi tanah itu dari masyrik (di belahan timur) sampai maghrib (di belahan barat). Namun bumi menjadi bergoncang, karena terjadi perubahan tata letak terhadap lautan. Allah SWT pun berfirman kepada Jibril: "Pergilah engkau ke bumi; peliharalah olehmu agar bumi itu stabil."

Jibril menuruti perintah-Nya. Jibril bersama beberapa malaikat segera menuju masyrik untuk membenahinya. Namun, lautan kemudian meluap di sebelah maghrib. Ketika Jibril membenahi di sebelah maghrib, air lautan meluap di daerah masyrik. Menyaksikan hal demikian, Jibril kemudian menghadap kepada Allah SWT: "Ya Tuhanku, Engkau pelihara langit-Mu dan bumi-Mu ini. Betapa pun hamba-Mu tahani dan hamba-Mu pelihara, tiadalah terpeliharakan oleh hamba-Mu." Lalu Allah SWT menjadikan bukit-bukit dan gunung-gunung sebagai pasak bumi. “Dan gunung-gunung sebagai pasak.” (Q.S. 78:7).

70.000 tahun lamanya maka bumi itu menghampar berlapis tujuh bagaikan baki yang terhampar. “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.”(Q.S. 65:12)

Lautan pun menjadi tenang kembali. Bersusun-susun pada tempatnya. Di dalam air laut itu, Allah SWT menjadikan seekor ikan yang bernama ikan nun yang sangat-sangat besarnya. Berada di dalamnya selama tujuh tahun. Dijadikan pula seekor sapi putih kehijau-hijauan yang sangat panjangnya sapi itu, hanya Allah yang Mengetahui berapa panjangnya sapi tersebut. Tanduknya bercabang empat ratus buah. Ukuran dari satu cabang tanduk ke tanduk yang lainnya sama dengan menenpuh jarak yang lamanya empat puluh tahun perjalanan. Konon, bumi ini diletakkan oleh Allah SWT di atas tanduk sapi itu dan ikan tadi menanggung sang sapi hingga hari kiamat tiba. Sebagai makanan dari ikan nun adalah diciptakan-Nya ikan. Sehari empat puluh ekor ikan dimakan oleh ikan nun tersebut. Besarnya ikan-ikan itu seperti besarnya ikan yang dijamu oleh Nabi Musa yang meminta kepada Allah SWT agar diperlihatkan kenyataan keberadaan ikan Nun. Tatkala ikan-ikan makanan ikan Nun itu terganga di hadapan Nabi Musa, maka terlihatlah ukuran tepi kanan mulut dan tepi kirinya sama dengan jarak yang ditempuh selama empat puluh hari perjalanan. Sedangkan makanan yang disediakan oleh Allah SWT bagi sapi adalah rerumputan yang bernama kamkama. Kemudian di atas bumi ini mulailah diciptakan binatang-binatang yang liar dan jinak.

Allah SWT menjadikan langit tujuh lapis dari asap buih yang mendidih tadi. Dari satu lapis ke lapis berikutnya berjarak lima ratus tahun perjalanan. Tebalnya pun demikian. Penciptaannya itu bagaikan manikam yang bernyala-nyala. Dijadikan pula matahari dan bulan sebagai hiasan langit. Sahib Arsila Bayani berkata, "Setelah Allah Ta’ala menciptakan alam, kemudian ke ‘Arsy, terus turun hingga ke yang paling bawah. Diletakkanlah oleh Allah Ta’ala ‘Arsy tersebut di atas Kursi. Sedangkan Kursi diletakkan di atas alam yang tujuh tingkat. Dinaungilah Kursi pada langit yang tujuh susun, dan diletakkan pula secara tersusun. Kemudian bertajalilah Allah Ta’ala dengan sifat Kemahabesaran-Nya. Bergoyanglah ‘Arsy, bergoyang pulalah langit. Langit berkeringat karena terlalu berat menanggung Kursi. Kursi pun mengeluarkan keringat karena telalu berat menanggung ‘Arsy. ‘Arsy ini juga berkeringat karena Maha Agung Nya tajalli Allah Ta’ala. Disebabkan oleh keringat yang keluar dan ciptaan-ciptaan Allah tersebut, maka jadilah lautan di antara ‘Arsy, Kursi, dan langit. Ada juga lautan di sekeliling/sekitar ‘Kursi. Di langit, ombak lautan yang bergelora memunculkan buih yang kemudian menjadi tanah. Dan tanah itu, terciptalah banyak jenis makhluk Allah. Sesungguhnya, keringat-keringat itu memuji atas Keagungan Allah SWT. Dengan demikian, telah diciptakanlah api, angin, air, dan tanah. Api membuktikan nama Allah Ta’ala Yang Maha Besar. Angin menunjukkan Kemahakuatan Allah. Air menggambarkan Kemahatahuan Allah. Sedangkan tanah menunjukkan Allah Maha Berkata-kata.

Setelah alam sempurna, dijadikanlah dari asal yang empat itu lima macam ciptaan: Pertama, yang ada di angkasa. Kedua, yang berada di dalam tanah. Ketiga, tumbuh-tumbuhan. Keempat, bebatuan. Dan kelima, binatang-binatang.

Keterangan :

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (Q.S. Ali Imran : 190)

“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran : 191).

Senin, 28 Januari 2013

Radio Streaming Gratis

Cara Membuat Radio Streaming Gratis Shoutcast

Persiapan
  1. Internet Unlimited dengan Upstream/Uplink/Upload minimal 56kbps
  2. Download Winamp disini (abaikan jika sudah ada)
  3. Download Shoutcast DSP disini

Instalasi
  1. Install Winamp (abaikan jika sudah ada)
  2. Install Shoutcast DSP

Konfigurasi
  1. Jalankan Winamp, Klik >> Options >> Preferences
  2. Klik >> Plug-ins >> DSP/Effect
  3. Klik >> Nullsoft SHOUTcast source DSP >> Output
  4. Pada Tab Connection Centang "Use SHOUTcast v1 mode (for legacy servers)"
  5. Isi Address, Port dan Password dengan otorisasi yang saya berikan ^_^.
  6. Klik Tab Encoder pada Encoder Type pilih MP3 Encoder set ke 24kbps 22050Hz Mono
  7. Klik Connect
  8. Cara mendengarkan: ketik http://ipaddress:port pada Open URL windows media player/ Winamp

Membuat stasiun Shoutcast



Memulai sebuah stasiun radio SHOUTcast belum pernah lebih mudah!

Jika Anda pikir itu terlalu sulit untuk memulai SHOUTcast Anda sendiri stasiun Radio - pikirkan lagi! Kami telah bekerja sama dengan Wavestreaming untuk menyediakan cara mudah untuk mendapatkan stasiun SHOUTcast Anda bangun dan berjalan cepat! Dengan setup wizard secara online Wavestreaming yang mendapatkan set up dan streaming mengambil beberapa langkah sederhana. Mulai stasiun SHOUTcast Anda menggunakan terbaru dalam teknologi SHOUTcast v2 - dan mendapatkan akses ke lebih dari satu juta pendengar yang tune ke stasiun radio SHOUTcast setiap hari melalui website kami, aplikasi mobile dan lainnya aplikasi pihak ketiga!

Klik di bawah ini untuk memulai!


Radio Shoutcast

Radio SHOUTcast adalah rumah dari Radio internet gratis. Didirikan pada tahun 1999, Radio SHOUTcast telah tumbuh menjadi salah satu direktori terbesar dari profesional dan masyarakat stasiun radio bertema diprogram di dunia yang memungkinkan siapa saja di masyarakat, apakah siaran individual di ruang bawah tanah atau stasiun profesional menjalankan, untuk mendirikan sebuah stasiun SHOUTcast . Layanan ini dapat diakses secara luas dan terintegrasi dengan produk sister Winamp dan stasiun yang tersedia di web, melalui media player (iTunes dan Windows Media Player, di set-top box, dan perangkat portable (Sony Mylo, PSP)

Lubai Permai






Sabtu, 26 Januari 2013

Akuntabilitas


Akuntabilitas ( tanggung gugat) adalah dapat menjawab segala hal hal yang berhubungan dengan tindakan seseorang, maksudnya bertanggung terhadap diri sendiri, pihak yang dilayani, dan pekerjaan.

Akuntabilitas adalah sebuah konsep etika yang dekat dengan administrasi publik pemerintahan (lembaga eksekutif pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga yudikatif Kehakiman) yang mempunyai beberapa arti antara lain, hal ini sering digunakan secara sinonim dengan konsep-konsep seperti yang dapat dipertanggungjawabkan (responsibility), yang dapat dipertanyakan (answerability), yang dapat dipersalahkan (blameworthiness) dan yang mempunyai ketidakbebasan (liability) termasuk istilah lain yang mempunyai keterkaitan dengan harapan dapat menerangkannya salah satu aspek dari administrasi publik atau pemerintahan, hal ini sebenarnya telah menjadi pusat-pusat diskusi yang terkait dengan tingkat problembilitas di sektor publik, perusahaan nirlaba, yayasan dan perusahaan-perusahaan.

Dalam peran kepemimpinan, akuntabilitas dapat merupakan pengetahuan dan adanya pertanggungjawaban tehadap tiap tindakan, produk, keputusan dan kebijakan termasuk pula di dalamnya administrasi publik pemerintahan, dan pelaksanaan dalam lingkup peran atau posisi kerja yang mencakup di dalam mempunyai suatu kewajiban untuk melaporkan, menjelaskan dan dapat dipertanyakan bagi tiap-tiap konsekuensi yang sudah dihasilkan.
akuntabilitas merupakan istilah yang terkait dengan tata kelola pemerintahan sebenarnya agak terlalu luas untuk dapat didefinisikan. akan tetapi hal ini sering dapat digambarkan sebagai hubungan antara yang menyangkut saat sekarang ataupun masa depan, antar individu, kelompok sebagai sebuah pertanggungjawaban kepentingan merupakan sebuah kewajiban untuk memberitahukan, menjelaskan terhadap tiap-tiap tindakan dan keputusannya agar dapat disetujui maupun ditolak atau dapat diberikan hukuman bilamana diketemukan adanya penyalahgunaan kewenangan. 

Akuntabilitas berasal dari bahasa Latin:accomptare (mempertanggungjawabkan) bentuk kata dasar computare (memperhitungkan) yang juga berasal dari kata putare (mengadakan perhitungan). Sedangkan kata itu sendiri tidak pernah digunakan dalam bahasa Inggris secara sempit tetapi dikaitkan dengan berbagai istilah dan ungkapan seperti keterbukaan (openness), transparansi (transparency), aksesibilitas (accessibility), dan Berhubungan kembali dengan publik (reconnecting with the public) dengan penggunaannya mulai abad ke-13 Norman Inggris, konsep memberikan pertanggungjawaban memiliki sejarah panjang dalam pencatatan kegiatan yang berkaitan dengan pemerintahan dan sistem pertanggungjawaban uang yang pertama kali dikembangkan di Babylon, Mesir, Yunani,, Roma. dan Israel

Akuntabilitas Politik

Akuntabilitas politik adalah akuntabilitas administrasi publik dari lembaga eksekutif pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga yudikatif Kehakiman kepada publik .
Dalam negara demokrasi, pemilu adalah mekanisme utama untuk mendisiplinkan pejabat publik akan tetapi hal ini saja tidak cukup dengan adanya pemisahan kekuasaan antara badan eksekutif, legislatif dan yudikatif memang dapat membantu untuk mencegah adanya penyalahgunaan kekuasaan yang hanya berkaitan pada check and balances pengaturan kewenangan. Checks and balances hanya bekerja dengan menciptakan pengaturan konflik kepentingan antara eksekutif dan legislatif, namun segala keputusan yang berkaitan dengan kepentingan publik masih memerlukan persetujuan kedua lembaga, dengan cara ini, kedua lembaga yang merupakan lembaga hasil pemilu dalam pengambilan keputusan-keputusan dalam hal kebijakan publik akan lebih pada merupakan hubungannya dengan konstituen pada keuntungan pemilu yang akan datang dibandingkan bila merupakan kebijakan yang sesungguhnya dari bagian kebijakan administrasi publik. biaya yang harus dikeluarkan dalam kegiatan politik antara lain pemilu yang diperlukan dapat menjadikan anggota eksekutif dan legislatif atau para pejabat publik lainnya rentan terhadap praktik-praktik korupsi dalam pengambilan keputusan yang terdapat memungkinan akan lebih menuju kepada keuntungan kepentingan pribadi dengan cara mengorbankan kepentingan publik yang lebih luas. 

Akuntabilitas administrasi

Aturan dan norma internal serta beberapa komisi independen adalah mekanisme untuk menampung birokrasi dalam tanggung jawab administrasi pemerintah. Dalam kementerian atau pelayanan, pertama, perilaku dibatasi oleh aturan dan peraturan; kedua, pegawai negeri dalam hierarki bawahan bertanggung jawab kepada atasan. Dengan diikuti adanya unit pengawas independen guna memeriksa dan mempertanggung jawabkan, legitimasi komisi ini dibangun di atas kemerdekaan mereka agar dapat terhindar dari konflik kepentingan apapun. Selain dari pemeriksaan internal, terdapat pula beberapa unit pengawas yang bertugas untuk menerima keluhan dari masyarakat sebagai akuntabilitas kepada warga negara.

Sumber : http://id.wikipedia.org

Responsibilitas

Responsibilitas (tanggung jawab) adalah tanggung jawab seseorang terhadap tugas-tugasnya yang berhubungan dengan peran seseorang kepada pihak yang dilayani.



Definisi lain menyebutkan akuntabilitas dapat diartikan sebagai kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawabannya. Akuntabilitas terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pencapaian hasil pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan kepada masyarakat (Arifiyadi, Teguh,: 2008 ).


Konsep tentang Akuntabilitas secara harfiah dalam bahasa inggris biasa disebut dengan accoutability yang diartikan sebagai “yang dapat dipertanggungjawabkan”. Atau dalam kata sifat disebut sebagai accountable. Lalu apa bedanya dengan responsibility yang juga diartikan sebagai “tanggung jawab”. Pengertian accountability dan responsibility seringkali diartikan sama. Padahal maknanya jelas sangat berbeda. Beberapa ahli menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan birokrasi, responsibility merupakan otoritas yang diberikan atasan untuk melaksanakan suatu kebijakan. Sedangkan accountability merupakan kewajiban untuk menjelaskan bagaimana realisasi otoritas yang diperolehnya tersebut. 

Berkaitan dengan istilah akuntabilitas, Sirajudin H Saleh dan Aslam Iqbal berpendapat bahwa akuntabilitas merupakan sisi-sisi sikap dan watak kehidupan manusia yang meliputi akuntabilitas internal dan eksternal seseorang. Dari sisi internal seseorang akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban orang tersebut kepada Tuhan-nya. Sedangkan akuntabilitas eksternal seseorang adalah akuntabilitas orang tersebut kepada lingkungannya baik lingkungan formal (atasan-bawahan) maupun lingkungan masyarakat. 

Deklarasi Tokyo mengenai petunjuk akuntabilitas publik menetapkan pengertian akuntabilitas yakni kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawaban fiskal,  manajeria dan program. Ini berarti bahwa akuntabilitas berkaitan dengan pelaksanaan evaluasi (penilaian) mengenai standard pelaksanaan kegiatan, apakah standar yang dibuat sudah tepat dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dan apabila dirasa sudah tepat, manajemen memiliki tanggung jawab untuk mengimlementasikan standard-standard tersebut. Akuntabilitas juga merupakan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam pencapaian hasil pada pelayanan publik. Dalam hubungan ini, diperlukan evaluasi kinerja yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian hasil serta cara-cara yang digunakan untuk mencapai semua itu. Pengendalian (control) sebagai bagian penting dalam manajemen yang baik adalah hal yang saling menunjang dengan akuntabilitas. Dengan kata lain pengendalian tidak dapat berjalan efisien dan efektif bila tidak ditunjang dengan mekanisme akuntabilitas yang baik demikian juga sebaliknya. 

Media akuntabilitas yang memadai dapat berbentuk laporan yang dapat mengekspresikan pencapaian tujuan melalui pengelolaan sumber daya suatu organisasi, karena pencapaian tujuan merupakan salah satu ukuran kinerja individu maupun unit organisasi. Tujuan tersebut dapat dilihat dalam rencana stratejik organisasi, rencana kinerja, dan program kerja tahunan, dengan tetap berpegangan pada Rencana Jangka Panjang dan Menengah (RJPM) dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Media akuntabilitas lain yang cukup efektif dapat berupa laporan tahunan tentang pencapaian tugas pokok dan fungsi dan target-target serta aspek penunjangnya seperti aspek keuangan, aspek sarana dan prasarana, aspek sumber daya manusia dan lain-lain.
 

Elektabilitas ~ keterpilihan

Istilah “elektabilitas” padanan yang tepat untuk kata ini, mungkin “keterpilihan”

Akseptabilitas ~ kecocokan

Istilah lain adalah “akseptabilitas” dari kata “acceptability”.  padanan Indonesianya : keterterimaan, kecocokan, kepantasan.

Loyalitas ~ Ketaatan

Kata loyalitas memang bisa diganti dengan “ketaatan”. Tetapi, di telinga kita, kata ketaatan terlalu dibebani oleh makna yang entah berbau feodal atau agama. Memang agaknya kurang tepat jika kata loyalitas diganti dengan ketataan. Bagaimana kalau kita coba “kesetiaan”?

Kapabilitas ~ kemampuan


Kata Kapabilitas” diganti dengan “kemampuan”, tentu akan lebih baik. Tidak ada makna yang hilang di sana. Kapabilitas dan kemampuan berbanding lurus secara makna, dan karena itu, tidak ada alasan untuk memakai istilah yang berasal dari bahasa Inggris (Capability) itu dan meninggalkan padanan Indonesianya.

Huznuzhon - berbaik sangka

PENGERTIAN HUSNUZHON

Husnuzhon secara bahasa berarti “berbaik sangka” lawan katanya adalah su’uzhon yang berarti berburuk sangka atau apriori dan sebagainya. Husnuzhon adalah cara pandang seseorang yang membuatnya melihat segala sesuatu secara positif, seorang yang memiliki sikap husnuzhon akan mepertimbangkan segala sesuatu dengan pikiran jernih, pikiran dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenarannya. 


Sebaliknya orang yang pemikirannya senantiasa dikuasai oleh sikap su’uzhon selalu akan memandang segala sesuatu jelek, seolah-olah tidak ada sedikit pun kebaikan dalam pandanganya, pikirannya telah dikungkung oleh sikap yang menganggap orang lain lebih rendah dari pada dirinya. Sikap buruk sangka identik dengan rasa curiga, cemas, amarah dan benci padahal kecurigaan, kecemasan, kemarahan dan kebencian itu hanyalah perasaan semata yang tidak jelas penyebabnya, terkadang apa yang ditakutkan bakal terjadi pada dirinya atau orang lain sama sekali tak terbukti. 



Kembali kepada husnuzhon, secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
  • Husnuzhon kepada Allah, ini dapat ditunjukan dengan sifat tawakal, sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup.
  • Husnuzhon kepada diri sendiri, ditunjukan dengan sikap percaya diri dan optimis serta inisiatif
  • Husnuzhon kepada sesama manusia, ditunjukan dengan cara senang, berpikir positif dan sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga.  

MACAM-MACAM HUSNUZHON

1. Husnuzan Kepada Allah


Salah satu sifat terpuji yang harus tertanam pada diri adalah adalah sifat husnuzhon kepada Allah, sikap ini ditunjukan dengan selalu berbaik sangka atas segala kehendak Allah terhadap hamba-Nya. Karena banyak hal yang terjadi pada kita seperti musibah membuat kita secara tidak langsung menganggap Allah telah tidak adil, padahal sebagai seorang mukmin sejati semestinya kita harus senantiasa menganggap apa yang ditakdirkan Allah kepada kita adalah yang terbaik. 


Seseorang boleh saja sedih, cemas dan gundah bila terkena musibah, akan tetapi jangan sampai berlarut-larut sehingga membuat dirinya menyalahkan Allah sebagai Penguasa Takdir. Sikap terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan cara segera menata hati dan perasaan kemudian menegguhkan sikap bahwa setiap yang ditakdirkan Allah kepada hamba-Nya mengandung hikmah. Inilah yang disebut dengan sikap husnuzhon kepada Allah. 

Sebagai seseorang mukmin yang meyakini bahwa Allah Maha Tahu atas apa yang terjadi terhadap hamba-Nya, karena itu kita semestinya berpikir optimis, yakin bahwa rahmat dan karunia yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan pernah putus. Sebagaimana Firman Allah Swt :

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat Ku meliputi segala sesuatu” (Q.S.Al-A’raf : 156) 


Sehubungan dengan ayat ini, kita perlu ber-husnuzhon kepada Allah dalam segala hal dan keadaan, Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya, ketika kita senang dan suka karena mendapatkan rezeki dan kenikmatan dari Allah, maka sebaliknya saat kita dalam keadaan nestapa dan duka karena mendapatkan ujian dan cobaan hendaknya tetap ber-husnuzhon kepada Allah Swt., sebab semua yang diberikan oleh Allah, baik berupa kenikmatan maupun cobaan tentu mengandung banyak hikmah dan kebaikan. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam sebuah Hadits Qudis yang artinya :
“Selalu menuruti sangkaan hamba Ku terhadap diri Ku jika ia berprasangka baik maka akan mendapatkan kebaikan dan jika ia berprasangka buruk maka akan mendapatkan keburukan” (H.R.at-Tabrani dan Ibnu Hiban). 



2. Husnuzan terhadap Diri Sendiri


Perilaku husnuzhon terhadap diri sendiri artinya adalah berperasangka baik terhadap kemampuan yang dimilki oleh diri sendiri. Dengan kata lain, senantiasa percaya diri dan tidak merasa rendah diri di hadapan orang lain. Orang yang memiliki sikap husnuzhon terhadap diri sendiri akan senantiasa memiliki semangat yang tinggi untuk meraih sukses dalam setiap langkahnya. Sebab ia telah mengenali dengan baik kemampuan yang dimilikinya, sekaligus menerima kelemahan yang ada pada dirinya, sehingga ia dapat menetahui kapan ia harus maju dan tampil di depan dan kapan harus menahan diri karena tidak punya kemampuan di bidang itu.

3. Husnuzhon terhadap Sesama Manusia


Husnuzhon terhadap sesama manusia artinya adalah berprasangka baik terhadap sesama dan tidak meragukan kemampuan atau tidak bersikap apriori. Semua orang dipandang baik sebelum terbukti kesalahan atau kekeliruannya, sehingga tidak menimbulkan kekacauan dalam pergaulan. Orang yang ber-husnuzhon terhadap sesama manusia dalam hidupnya akan memiliki banyak teman, disukai kawan dan disegani lawan. 


Husnuzhon terhadap sesama manusia juga merupakan kunci sukses dalam pergaulan, baik pergaulan di Sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarkat. Sebab tidak ada pergaulan yang rukun dan harmonis tanpa adanya prasangka baik antara satu individu dengan individu lainnya.

PERILAKU HUSNUZHON

1. Husnuzhon kepada Allah, Sabar Menghadapi Cobaan-Nya


Berprasangka baik kepada Allah Swt. artinya menganggap qada dan qadar yang diberikan Allah adalah hal yang terbaik untuk hamba-Nya, karena Allah Swt. bertindak terhadap hamba-Nya seperti yang disangkakan kepada-Nya, kalau seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah Swt., maka buruklah prasangka Allah kepada orang tersebut, jika berprasangka baik kepada-Nya, maka baik pulalah prasangka Allah kepada hamba-Nya.

Cara menunjukkan sikap husnuzan kepada Allah swt adalah :
  • Senantiasa taat kepada Allah.
  • Bersyukur apabila mendapatkan kenikmatan.
  • Bersabar dan ikhlas apabila mendapatkan ujian serta cobaan.
  • Yakin bahwa terdapat hikmah di balik segala penderitaan dan kegagalan.

2. Husnuzhon kepada Diri Sendiri


Husnuzhon kepada diri sendiri adalah sikap baik sangka kepada diri sendiri dan meyakini akan kemampuan dan potensi yang dimiliki. Husnuzhon kepada diri sendiri dapat ditunjukkan dengan sikap gigih dan optimis. Gigih berarti sikap teguh pendirian, tabah dan ulet atau berkemauan kuat dalam usaha mencapai sesuatu cita-cita. Sedangkan optimis adalah sikap yang selalu memiliki harapan baik dan positif dalam segala hal.
Manfaat sikap gigih adalah :
  • Membentuk pribadi yang tangguh
  • Menjadikan seseorang teguh pendirian dan tidak mudah terpengaruh
  • Menjadikan seseorang kreatif.
  • Menyebabkan tidak gampang putus asa dan menyerah terhadap keadaan
  • Berinisiatif, artinya pelopor atau langkah pertama atau senantiasa berbuat sesuatu yang sifatnya produktif. Berinisiatif menuntut sikap bekerja keras dan etos kerja yang tinggi. Adapun ciri-ciri orang penuh inisiatif adalah kreatif dan tidak kenal putus asa

3. Husnuzhon kepada Sesama Manusia


Husnuzhon kepada sesama manusia adalah sikap yang selalu berpikir dan berprasangka baik kepada sesama manusia. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif dan sikap saling menghormati antar sesama hamba Allah tanpa ada rasa curiga, dengki dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas.

Nilai dan manfaat dari sikap Husnuzhon kepada manusia mengandung nilai dan manfaat sebagai berikut :
  • Hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik.
  • Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama.
  • Selalu senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain.

HIKMAH HUSNUZHON

Di antara hikmah husnuzhon adalah sebagai berikut :
  1. Menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah, artinya melaksanakan perintah Allah dan Rasul serta menjauhi segala larangannya, melaksanakan jihad fisabillilah dan mencintai sesame manusia karena Allah.
  2. Menumbuhkan perasaan syukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.
  3. Menumbuhkan sikap sabar dan tawakal.
  4. Menumbuhkan keinginan untuk berusaha beroleh rahmat dan nikmat Allah
  5. Al – afwu (pemaaf)
  6. Al – wafa (menepati janji)
  7. Al – ‘iffah (memelihara kesucian diri)
  8. Al – haya’ (malu)
  9. Syaja’ah (gigih)
  10. As – sabru (sabar)
  11. Ar – rahmah (kasih sayang)
  12. At – ta’awwun (tolong menolong)
  13. Al – islah (damai)
  14. An – nazafah (memelihara kebersihan)
  15. Mendorong manusia mencapai kemajuan.
  16. Menimbulkan ketentraman.
  17. Menghilangkan kesulitan dan kepahitan.
  18. Membuahkan kreasi yang produktif dan daya cita yang berguna.

Kamis, 24 Januari 2013

Ringan dibaca berat timbangan

Rosulullah SAW Bersabda : Ada dua kalimat yang ringan diucapkan, tetapi berat ditimbangan amal, dan dicintai Ar-Rahman (Allah) yaitu : Subhaanallaahi Wa Bihamdihi Subhaanallaahil Adzim. (HR. Bukhari-Muslim)

Kalimah tsb dapat memberatkan timbangan amal diakhirat.

Syaratnya bila dibaca dengan menghayati betapa maha sucinya Allah yang tidak akan pernah ada kesalahan dan lupa.

Kesalahan adalah sifatnya manusia oleh karenanya harus tunduk kepada perintah-Nya.

Al Quran dan As Sunnah tidak pernah salah dan tidak akan terdapat kekurangan, karena berasal dari Allah SWT yang maha suci dari salah. Kedua petunjuk itu tidak boleh ditinggalkan makanya harus dikuatkan keyakinan akan kebenaran ayat2 Allah dan Hadist Rosulullah SAW meleibihi syariat dan hukum buatan / karangan manusia yang lemah syarat kepentingan.

Rabu, 23 Januari 2013

Dunia dikuasai 4 orang

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari rodhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ ، وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً ، فَصَبَرَ عَلَيْهَا ، إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزًّا ، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ ، إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ،  وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.
“Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, dan aku akan menceritakan kepada kalian suatu perkataan, maka hafalkanlah. Beliau bersabda: “Harta seorang hamba tidaklah berkurang disebabkan shodaqoh, dan tidaklah seorang hamba terzholimi dengan suatu kezholiman lalu ia bersabar dalam menghadapinya melainkan Allah menambahkan kemuliaan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu utk meminta-minta (kepada orang lain, pent) melainkan Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran, -atau suatu kalimat semisalnya-. Dan aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan kemudian hafalkanlah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja:
  1. Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Allah, inilah kedudukan yang paling mulia.
  2. Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’  Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama.
  3. Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak
    bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak
    mengetahui hak-hak Allah, maka ia berada pada kedudukan paling rendah.
  4. Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh
    Allah ta’ala, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.”
Sumber : http://abufawaz.wordpress.com

Cara mencintai Nabi Muhammad

Diriwayatkan dari Anas, dari Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (HR. Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.44)
Belakangan ini, di tengah-tengah masyarakat sedang marak berbagai aktivitas yang mengatasnamakan cinta Rasulullah. Kecintaan kepada Rasulullah r adalah perintah agama dan merupakan prinsip keimanan. Tetapi untuk mengekspresikan cinta kepada Rasulullah tidak boleh kita lakukan menurut selera dan hawa nafsu kita sendiri. Sebab jika cinta Rasulullah itu kita ekspresikan secara serampangan tanpa mengindahkan syari’at agama maka bukannya pahala yang kita terima, tetapi malahan menuai dosa. 
Berdasarkan hadits shahih yang telah kita sebutkan di atas, kita akan membahas beberapa Pelajaran berikut ini:

Hukum Mencintai Rasulullah  

Hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi Muhammad SAW dengan kualitas cinta tertinggi. Yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan ibu bapak kita. Bahkan cinta Rasul itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.
Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, bahwa Umar bin Khathab r berkata kepada Nabi Muhammad SAW :
لأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : لاَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ . فَقَالَ : لَهُ عُمَرُ : فَإِنَّكَ اْلآنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : اْلآنَ يَا عُمَرُ
 “Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” Nabi shallallahu alaihi wasalam  bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.” (HR. Bukhari VI/2445 no.6257).
Demikian pula, mencintai Rasulullah r wajib melebihi kecintaan kita kepada kedua ortu, anak, keluarga, dan harta benda. Hal ini sebagaimana hadits-hadits shohih berikut ini:
  • Dari Anas t, dari Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau      bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (HR. Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.70, An-Nasai VIII/114 no.5013, Ibnu Majah I/26 no.67, dan Ahmad III/177 no.12837)
  • Dari Anas t,  ia berkata: Rasulullah r bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah (sempurna) iman seorang hamba sehingga aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya dan segenap umat manusia.” (HR. Muslim I/67 no.69, An-Nasai VIII/115 no.5014). 

Buah Kecintaan kepada Rasulullah

Kecintaan sejati kepada Rasulullah r menyebabkan seseorang merasakan manisnya iman. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas t, dari Nabi r, beliau bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اِلإِيْمَانِ : أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا 
“Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, ‘Yaitu, kecintaannya pada Allah dan RasulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya……”. (HR. Bukhari I/14 no.16, 21 dan 6542, dan Muslim I/66 no.43).
Orang yang mencintai Rasulullah r dengan benar akan dikumpulkan oleh Allah bersama-sama dengan beliau di akhirat kelak. Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».
 قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بَعْدَ الإِسْلاَمِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ». قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ.
Dari Anas bin Malik t, ia berkata: “seseorang datang menemui Rasulullah r dan berkata: “Wahai Rasulullah, kapan akan terjadi hari kiamat?” beliau bersabda: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” ia menjawab: “kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lali beliau bersabda: “sesungguhnya engkau akan bersama-sama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Muslim IV/2032 no.2639, dan Ahmad III/192 no.13016). 

Ancaman Bagi Orang Yang Mencintai Sesuatu Melebihi cintanya kepada Rasulullah 

Allah mengancam siapa saja yang mencintai seseorang, baik itu orang tua, anak, istri, kerabat, atau harta benda dan tempat tinggal melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24). 

Tanda-tanda Cinta Kepada Rasulullah    
Cinta Rasulullah tidaklah berupa peringatan-peringatan tertentu pada saat-saat tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.
Adapun diantara tanda-tanda cinta sejati kepada Rasulullah  adalah sebagai berikut:
  1. Berkeinginan Keras untuk Dapat Melihat dan Bertemu dengn Rasulullah, dan Merasa berat Bila Kehilangan Kesempatan itu tanda dan bukti cinta Rasul ini sdh diwujudkan oleh para sahabat dengan sempurna.
  2. Mentaati beliau dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.
Pecinta sejati Rasul manakala mendengar Nabi Muhammad SAW memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak akan mendahulukan ketaatannya kepada isteri, anak, orang tua atau adat kaumnya. Sebab kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada yang dicintainya.
Adapun orang yang dengan mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi Muhammad SAW serta menerjang berbagai kemungkaran maka pada dasarnya dia jauh lebih mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu, padahal Nabi Muhammad SAW sangat mengagungkan perkara shalat, hingga ia diwasiatkan pada detik-detik akhir sakaratul mautnya. Dan orang jenis ini, akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na’udzubillah min dzalik.
b. Menolong dan mengagungkan beliau r dan sunnahnya.
Dan ini telah dilakukan oleh para sahabat sesudah beliau wafat. Yakni dengan mensosialisasikan, menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang dihadapinya.

Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui beliau r, rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun dari sunnahnya.
Hal ini sebagaimana Allah I berfirman:
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمَا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65).
Adapun selain beliau, hingga para ulama dan shalihin maka mereka adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. Tidak seorang pun dari mereka boleh diterima perintah atau larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi Muhammad SAW.

Mengikuti beliau r dalam segala halnya.
Dalam hal shalat, wudhu, makan, tidur , bergaul, dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau r dalam kasih sayangnya, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran dan zuhudnya, dsb. Allah r berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا 
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)

Memperbanyak mengingat dan shalawat atas Nabi Muhammad SAW.
Dalam hal shalawat Nabi r bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim I/306 no.408).
Adapun bentuk shalawat atas Nabi r adalah sebagaimana yang beliau ajarkan. Salah seorang sahabat bertanya tentang bentuk shalawat tersebut, beliau menjawab: “Ucapkanlah:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَّمَدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
( Ya Allah, bershalawatlah atas Muhammad dan keluarga Muhammad)” (HR. Al-Bukhari No. 6118, Muslim No. 858).

Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi  Muhammad SAW.
Seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Aisyah, Fathimah radhiallahu anhum dan segenap orang-orang yang disebutkan hadits bahwa beliau shallallahu alaihi wasalam  mencintai mereka. Kita harus mencintai orang yang dicintai beliau dan membenci orang yang dibenci beliau r. Lebih dari itu, hendaknya kita mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya. 

Bagaimana Agar kita Mencintai Rasulullah?
Terdapat beberapa kiat dan amalan yang dapat dilakukan agar kita mampu mewujudkan kecintaan sejati kepada Rasulullah r. Di antaranya:
  1. Hendaknya kita ingat bahwa Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling baik dan paling berjasa kepada kita, bahkan hingga dari orang tua kita sendiri. Beliaulah yang mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya, yang menyampaikan agama dan kebaikan kepada kita, yang memperingatkan kita dari kemungkaran. Dan kalau bukan karena rahmat Allah yang mengutus beliau, tentu kita telah tenggelam dalam kesesatan. 
  2. Renungkanlah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, jihad dan kesabarannya serta apa yang beliau korbankan demi tegaknya agama ini, dalam menyebarkan tauhid serta memadamkan syirik, sungguh suatu upaya yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. 
  3. Renungkanlah keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW, sifat dan sikapnya yang sempurna, rendah hati kepada kaum mukminin dan keras terhadap orang-orang munafik dan musyrikin, pemberani, dermawan dan penyayang. Cukuplah sanjungan Allah atas beliau :
وَ إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Dan sungguh engkau memiliki akhlak yang agung”
(QS. Al Qolam : 4)

Mengetahui kedudukan beliau di sisi Allah . Beliau adalah orang yang paling mulia di antara segenap umat manusia, penutup para Nabi, yang diistimewakan pada hari Kiamat atas segenap Nabi untuk memberikan syafa’at uzhma (agung), yang memiliki maqam mahmud (kedudukan terpuji), orang yang pertama kali membuka pintu Surga serta berbagai keutamaan beliau lainnya.
Demikianlah penjelasan singkat tentang cinta sejati kepada Rasulullah r. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan mengamalkannya dalam kehidupan kita sehari-hari hingga akhir hayat sehingga kita digolongkan oleh Allah I ke dalam orang-orang yang jujur dan setia dalam mencintai, mengikuti dan membela Nabi Muhammad SAW, dan dikumpulkan dalam satu majlis bersama Nabi Muhammad SAW di dalam surga-Nya. Amin.

 

Dangdut Bahi

Loading...

Wali Band

Loading...

Artikel Blog

Dangdut RGS

Loading...

Dangdut Palapa

Loading...

Selamat Datang

Terima Kasih telah berkunjung di Blog Forkum Lubers "Sebase Seanengan"

Prayer Times

Daftar pengikut

Ragam Mengobrol

Dangdut Monata

Loading...

Dangdut Metro

Loading...

Tulisan Forkum Lubers